Kupu-kupu (butterfly) merupakan hewan yang sangat cantik dan menawan. Keindahan dan keunikannya membuat manusia ingin menyentuhnya hingga diawetkan menjadi suatu karya seni yang sangat mahal.
Proses untuk menjadi seekor kupu-kupu tidaklah mudah, banyak tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh kupu-kupu. Tahapan-tahapan yang disebut dengan metamorfosa, seekor kupu-kupu harus melalui dari telur-ulat-kepompong kemudian menjadi seekor kupu-kupu yang sangat indah.
Kita tahu bahwa Metamorfosis adalah suatu proses biologi di mana hewan secara fisik mengalami perkembangan biologis setelah dilahirkan atau menetas, melibatkan perubahan bentuk atau struktur melalui pertumbuhan sel dan differensiasi sel. (wikipedia.com)
Nah..dari proses sebuah metamorfosa kupu-kupu, kita bisa mengambil suatu pelajaran yang berharga untuk menjadi seorang pemimpin (leader). Dibutuhkan perjuangan yang sangat gigih untuk mencapai sebuah tahap excellence. Metamorfosa seorang pemimpin bisa dipelajari dari metamorfosa seekor kupu-kupu yang akhirnya menjadi seekor kupu-kupu yang sangat indah dan berharga bagi alam sekitar.
Fase awal seekor kupu-kupu adalah telur. Telur merupakan cikal bakal sebuah bibit yang mengandung semua potensi hidup tetapi mempunyai sifat yang pasif. Sifat yang sangat pasif ini ditandai dengan tidak mampu bergerak bahkan tidak berdaya, sama halnya dengan seorang fresh gradute yang baru saja memasuki dunia kerja. Sebagai seorang yang baru memasuki dunia kerja, pasti membutuhkan orang lain untuk membimbing kita, orang yang dapat membimbing untuk melangkah ke fase berikutnya karena seorang fresh graduate sama juga memasuki fase awal dari seekor kupu-kupu.
Fase kedua dari seekor kupu-kupu yakni fase telur yang menetas sehingga dalam proses penetasan tersebut menjadi seekor ulat yang menjijikan yang selalu merugikan bagi manusia padahal keduanya antara ulat dan kupu-kupu adalah makhluk yang sama. Seekor ulat yang selalu menjadi makhluk parasit, makhluk yang selalu memakan dedaunan untuk bertahan hidup dan selalu merayap ke seluruh bagian daun untuk menyantap sebanyak-banyaknya. Bahkan, bulunya bisa membuat kulit manusia menjadi gatal-gatal. Tetap saja namanya ulat, ia tidak bergeming apapun walau ia hanya seekor ulat sangat merugikan. Seekor ulat mempunyai prinsip yang sangat bagus untuk kita petik yaitu “aku tidak berhenti disini untuk menjadi seekor kupu-kupu yang indah” maka ulat akan melanjutkan mempertahankan hidup hingga menjadi seekor kupu-kupu.
Daya tahan atau endurance seekor ulat saja sudah bisa memperlihatkan bahwa perjuangannya tidak berakhir dalam fase ini. Kembali lagi ke seorang fresh graduate yang baru saja memasuki di dunia kerja, ia tentu belum mengerti banyak hal. Proaktif belajar dan mencari tahu untuk menjadi mengerti adalah kata kuncinya. Dalam menerima tugas, hendaknya tidak pilih-pilih karena disekeliling kita merupakan tempat bertanya apabila kita sebagai fresh graduate yang belum sepenuhnya memahami untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh tempat kerja. Terkadang, seorang senior dapat menjadi lahan bertanya dari juniornya. Seorang senior pun akan merasa terganggu akan hal ini, tetapi kembali lagi inilah proses belajar.
Fase kepompong atau fase yang ketiga dari pembentukkan menjadi seekor kupu-kupu. Untuk merubah dirinya menjadi seekor kupu-kupu, ia akan memasuki masa yang sangat sulit yaitu ia akan terkurung didalam selubung selama beberapa waktu. Bertahan hidup dengan mengandalkan sari-sari makanan yang telah ia kumpulkan sebelumnya. Fase ini bisa dibilang fase pertapa, tidak ada yang tahu pasti apa yang sedang ia kerjakan di dalam selubung.
Lifetime learning.. masa untuk belajar membentuk sebuah karakter yang penting. Selain mencari pembelajaran, sebuah karakter atau jati diri harus terbentuk yang nantinya akan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Contoh seorang fresh graduate yang akan menginjak menjadi seorang senior, diharapakan ia semakin pandai serta memberikan kontribusi pemikiran yang brilian bagi tempat kerjanya. Semua bisa dicapai jika ia dapat mengambil hikmah pelajaran (lesson learned) yang diberikan di setiap tugas dan modal pelajaran itulah yang akan menjalankan project berikutnya menuju yang lebih baik.
Akhirnya…kupu-kupu berterbangan kesana kemari setelah melewati fase kepompong, saat ini ia berada di fase puncak. Sekarang, seekor kupu-kupu dengan sayap yang indah merupakan hasil buah kesabaran, ketekunan dan perjuangan yang sangat melelahkan. Bagi seorang karyawan senior, ia telah mencapai keberhasilan mengenali potensi diri yang terbaik dalam dirinya. Potensi ini diharapkan ia mampu menyelesaikan setiap tugas dengan baik hingga ia dilihat dan diakui oleh orang atas keberadaannya.
Tetapi, apakah sang kupu-kupu akan berhenti sampai sini? Jawabannya tentu “tidak”, ia akan terbang kesana kemari menggunakan sayapnya yang indah, badannya yang ringan, gayanya yang indah serta lincah tanpa suara. Sang kupu-kupu tadi akan hinggap dari bunga yang satu menuju ke bunga yang lain, ia secara instuisi membantu penyerbukan silang.
Penyerbukan silang yang terjadi di dalam suatu tempat kerja yakni apabila terdapat senior yang telah memiliki kemampuan dan ketrampilan pastinya akan melatih kepada juniornya untuk mengerjakan sesuatu yang diberikan dari tempat kerjanya secara profesional. Oleh karena itu, suatu tempat kerja akan bertumbuh secara dewasa (mature) dan profesional. Implikasi yang dapat diambil dari proses ini, mereka yang tergabung dalam sebuah tim kerja akan memultiplikasi ke beberapa inovasi yang diimbangi kreatifitas untuk membentuk suatu usaha yang lain demi kemajuan suatu lingkup kerja.
Jadi beberapa fase-fase metamorfosa kupu-kupu yang menjadi filosofi dari silent leadership. Tipikal ledaership yang sedikit bicara tetapi memberikan bukti nyata akan hasil yang ia perbuat. Komitmen yang kuat serta ketekunan mendasari menjadi seorang “silent leadership”. Dan, “Be leader like butterfly” inilah yang akan dicari dari suatu lingkup kerja untuk memajukan kehidupan tim kerja.
Writer:
Vembri Affiano
(C) July 2009-07-19
Reff:
www.wikipedia.com
Brain Newsletter July 2009, PT. Smart Tbk
Komentar