SURAT UNTUK IBU
May 15, 2012 Leave a comment
Cerita pendek dari Istriku tercinta….
Ibu,,, hari ini aku kembali ke rumahku, kembali kepada kehidupan kecil kami yang telah di persiapkan oleh suamiku setelah kami melewati bulan madu.
Ibu,,, aku berharap engkau dekat dengan diriku, agar aku dapat bercerita kepada mu tentang segala sesuatu dari pengalaman hidupku bersama suamiku. Sungguh , ia adalah seorang laki-laki yang baik. Ia begitu mencintaiku dan begitu pula dengan diriku. Akan tetapi, aku belum terbiasa dengan wataknya. Kadang-kadang aku merasa bahwasanya aku telah mengenalnya semenjak bertahun-tahun yang lalu. Namun, terkadang pula aku merasa bahwa ia orang yang benar-benar asing , yang tidak memiliki hubungan apapun dengan dunia kecilku dimana aku tumbuh.
Akan tetapi, bukankah ini suatu kenyataan ? sesungguhnya, aku telah melakukan segala sesuatu yang aku mampui demi keridhaan suamiku. Yakinlah wahai ibuku, bahwasanya aku akan selalu menjaga seluruh nasihatmu dan melaksanakan apa yang engkau wasiatkan kepadaku. Khususnya yang engkau sampaikan kepadaku dengan linangan air matamu dan secercah senyumanmu.
Sungguh, aku masih ingat setiap kalimat dan setiap huruf yang engkau ucapkan dan engkau bisikan pada telingaku, sementara engkau memeluk dan merengkuhku ke dadamu yang penuh kasih pada malam pernikahanku. Sungguh, aku masih ingat pula setiap kalimat yang engkau ucapkan kepadaku.
Sesungguhnya, aku melihat kehidupan dari celah- celah pandanganmu kepada kehidupan tersebut. Engkau adalah teladan yang begitu tinggi bagiku. Tidak ada keinginan pada diriku selain berbuat sebagaimana yang telah engkau perbuat terhadap almarhum bapakku dan juga terhadap kami, anak-anakmu. Engkau telah memberikan seluruh kecintaan dan kasih sayangmu kepada kami. Mengajarkan kepada kami arti sebuah kehidupan dan bagaimana menjalaninya. Meletakan benih benih cinta dengan tanganmu dalam hati kami. Sungguh , aku telah kehilangan satu hal, yaitu ciumanmu yang penuh kasih yang engkau biasakan kepadaku.
Aku telah selesai menyiapkan makan siang untuk suamiku. Sebab ia sangat merindukan waktu kepulangannya dari pekerjaannya. Janganlah engkau gelisah, wahai ibu, karena kini aku telah menjadi seorang juru masak yang mahir. Aku merasa bahagia ketika duduk dihadapan suamiku dan menemaninya di ruang makan, sementara ia menyantap – dengan lahap- makanan yang telah aku siapkan untuknya dengan kedua tanganku. Sampai , ketika ia telah selesai dari menyantap makanan, ia tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepadaku atas apa yang telah aku perbuat untuknya.
Wahai ibu, janganlah engkau lupa bahwa sesungguhnya aku adalah muridmu. Engkaulah yang telah mengajariku memasak. Engkaulah yang telah memberitahuku bahwa jalan paling dekat untuk sampai hati suami adalah makanannya.
Aku mendengar suara roda mesin berjalan mendekat rumah, pasti itu adalah suamiku. Benar , itu pasti dia. Kucukupkan suratku ini untukmu ibu. Ciumku untukmu ibu, bapak yang sekarang di surga, kakak dan adikku. With love .. putrimu…

Komentar